Senin, 17 Juni 2024

sejarah GIDI 1962.

Pada Tahun 1962 Kantor Sinode GIDI Pertama di Bangun di Saat Anak Injil Bapak PDT. KEBOBA WANIMBO di Percaya menjadi Ketua Sinode GIDI Kedua, hari ini Kantor Sinode GIDI itu sedang duduk diam di Lembah Bogodine, Wilayah Bogo GIDI, dan selama 60 Tahun Kantor Sinode Pertama itu Menunggu Anak Hasil Buah Penginjilan yang Lahir, Besar dan Sekolah dan akhirnya Anak Hasil Buah Penginjilan itu Menjadi Ketua Sinode atau Presiden GIDI sekarang yaitu Bapak 
PDT. DORMAN WANDIKBO, S.Th. dan TUHAN YESUS KRISTUS dalam INJILNYA telah Memberikan HIKMAT yang Luar Biasa kepada Bapak PDT. DORMAN WANDIKBO, S.Th yang adalah Anak GIDI Wilayah BOGO, untuk BERMIMPI, BERDOA dan MERENCANAKAN
Pembangunan Kantor SINODE GIDI yang saat ini Berdiri Megah di Ibukota Provinsi Papua, di Tanah Port Numbai, West Papua, untuk itu Hai Pemerintah Mamberamo Tengah, Hai Orang Tuaku, Hai Para Kader Gereja di Wilayah Bogo, sekarang ini sedang BIKIN APA dan KASIH BERAPA, Apakah Uang Rp. 400 Juta yang dikirim kepada Panitia Peresmian Kantor SINODE GIDI dan Panitia Konferensi GIDI ke XX, yang Ketua Panitianya adalah Anak Buah INJIL dari Wilayah Bogo atas Nama R. DENSY YIKWA, apakah Bantuan Uang itu sama Nilainya dengan INJIL Pertama yang di Terima dan Beritakan di Wilayah BOGO, dan apakah Uang itu sama Nilainya juga dengan Perjuangan Orang Tua GIDI Wilayah BOGO yang BERDOA dan MENANGIS untuk Menghadirkan Kabupaten Mamberamo Tengah, setelah Mendengar dan Melihat hal ini, Saya Sebagai ANAK INJIL yang Pernah Menjadi BUPATI di Mamberamo Tengah, Saya Merasa Sedih dan Marah, karena Saya dengar ada Bantuan Kepada Gereja GKI di Kobakma Rp. 800 Juta, tetapi kepada Gereja GIDI yang Menghadirkan Kabupaten Mamberamo Tengah, hanya diberikan Bantuan Uang Sebensar Rp. 400 Juta. Hal ini telah Menghancukan Harkat dan Martabat serta Nama Baik GIDI Wilayah BOGO dan Kabupaten Mamberamo Tengah di Mata GEREJA INJILI DI INDONESIA, Akhirnya dari dalam Jeruji Besi Penjara NKRI Lapas Kelas 1 Makasar, Saya hanya bisa BERDOA kepada TUHAN YESUS KRISTUS sebagai KEPALA GEREJA semoga akan Memberkati Bapak, Ibu, Sauadara - Saudari Sekalian. Wa.

Selasa, 04 Juni 2024

PENGALAMAN PERJALANAN DIDUPKU


Nama saya Alimur liwiya.
Saya seorang mahasiswa Papua yang berkuliah di STKIP Surya. Saya berasal dari Desa Distrik Kuari, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Aneh dan tampak sedikit menakutkankan bila dilihat dari rupa dan penampilan saya. Akan tetapi, siapa yang bisa menyangka saya adalah orang yang sangat ramah dan tulus dalam menjalin pertemanan dengan orang lain. Pertama kali saya bertemu dengan temen-teman dari Kalimantan Tenggah,Belitung Timur,Palembang yaitu saat memasuki kampus STKIP Surya ini, tepatnya di kelas TIK 3. Saya, berkulit hitam, keriting rambut layaknya seorang Papua Pikiranku akankah mereka berteman denganku, namun rasa itu tidak mengalang saya untuk berteman dengan mereka, mereka adalah teman-teman yang terbaik yang perna saya alami saat matrikulasi. Singkat cerita, saya adalah anak seorang petani yang bercita-cita tinggi untuk bersekolah. Saya adalah anak ke 1 dari 3 bersaudara.

Papua adalah daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kemajuan teknologi dan jarang tersentuh oleh perhatian pemerintah. Hal ini menimbulkan dampak di berbagai aspek kehidupan, salah satunya pendidikan. Jumlah sekolah yang ada di sana masih tergolong sedikit dan jauh dari rumah penduduk. Betapa tidak, saya yang tinggal di daerah pegunungan harus menempuh jarak lebih dari 5 km dengan berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Namun, jauhnya jarak tidak menyurutkan semangatku untuk tetap bersekolah. Tidak ada sedikitpun keluh-kesah yang di rasakan olehku dalam menjalani semuanya itu.

Saya tergolong anak yang kurang cerdas. Sejak menginjak bangku Sekolah Dasar sampai SMA. Saya ingin membuktikan walaupun saya dari pedalaman, saya masih dapat bersaing dengan anak-anak kota di daerahku, namun mereka lebih jauh lebih baik dari saya. Pada saat saya menginjak bangku SMP saya mempunyai cita-cita yang sangat mulia yaitu menjadi seorang pailot. Jika saya sudah lulus SMA saya ingin melanjutkan kuliah dipenerbangan walaupun matematika saya kurang sempurna apa lagi bahasa inggrispun tidak tahu . Padahal semua orang tahu bahwa kuliah penerbangan itu sangatlah mahal apalagi untuk orang seperti saya yang hanya salah satu anak seorang petani. Ada alasan mengapa saya ingin sekali menjadi seorang pailot. Alasan saya sangat sederhana, mengapa orang lain bisa sedangkan saya kenapa tidak bisa itulah yang menjadi alasan saya.

Dikelas saya adalah mahasiswa yang ceria. Akan tetapi, keceriaanku akan surut apabila mendapat nilai kecil dalam bahasa Indonesia. Saya memang mempunyai kemampuan yang belum baik dalam berbahasa. Saya selalu berusaha dengan keras untuk menaklukkan bahasa Indonesia, tetapi nilai yang kecil selalu menghantuhiku dan membuatku meneteskan air mata apabila melihat kertas ujian bertuliskan nilai kecil. Ibu Hening selalu berusaha menghiburku. Dan berkata “Pak Guru Ally jangan menangis”, ucapan itu selalu menghibur saya. Panggilan itu begitu melekat pada saya sebab saya selalu memanggil semua teman-teman dengan sebutan Pak Guru dan Bu Guru, seperti “Pak Guru Kalimantan, Pak guru Belitung, Bu Guru Kalimantan, Bu guru Belitung”. Guru adalah profesi yang mungkin akan dijalani olehku setelah lulus kuliah di STKIP Surya, walau hal itu tidak perna terpikir olehku.


Beralih ke cita-cita awalnya tadi. Saya tidak menyangka cita-cita saya begitu besar. Menjadi pailot adalah cita-cita yang luar biasa tetapi saya yang hanya seorang anak petani yang tanpa ragu menjadikan itu sebagai tujuanku, Keseriusanku, akan tetapi, saya menyadari bawah kondisi keuangan keluargaku tidak memungkinkan untuk menggapai semua itu. Petani Papua dengan penghasilan yang tidak seberapa akan sulit bagiku untuk membiayai pendidikan penerbangan. Saya hidup masih dalam kondisi sederhana dan tradisonal. saya tinggal di daerah pegunungan dengan tempat tinggal masih menggunakan rumah adat Papua, yaitu Rumah Honai. Akhirnya saya mengurungkan niatku untuk menjadi pailot. Sekarang saya berkuliah dengan beasiswa Pemda Tolikara di STKIP Surya untuk menjadi guru. Satu lagi keinginan saya adalah setelah lulus S1 saya dapat ingin melanjutkan pendidikan S2 baru kemudian pulang untuk membangun Papua.